Bab 26: Matamu Benar-benar Buta
Bar Mawar.
“Bu Qi, sudah saya selidiki.”
Qiao Xiaoying meletakkan setumpuk dokumen di atas meja di depan Qi Wei.
“Pemuda tangguh di bawah Huang Zhenqiang itu bernama Afei, dua tahun lalu dia dibayar mahal untuk direkrut.”
“Afei tahun ini berusia dua puluh tahun, berguru pada Master Taiji Chen Kexing. Konon, kemampuan Taiji-nya sudah mencapai tingkat luar biasa.”
“Hanya saja, dia sangat jarang menunjukkan kemampuannya, jadi tak ada yang tahu pasti seberapa kuat dirinya.”
Alis Qi Wei mengerut tajam, lalu mendengus dingin, “Sama-sama dua puluh tahun, tapi perbandingan antar manusia memang bikin kesal. Xiao Qiao, kau coba selidiki seberapa hebat Afei itu.”
“Baik.” Qiao Xiaoying menerima perintah dan segera pergi.
...
Pukul satu siang, di ruang VIP Restoran Empat Samudra.
Setelah meninggalkan Hotel Huantian, Chen Yu menerima telepon dari Qi Bowen yang mengajaknya makan siang di sana.
Hanya berdua, mereka memesan enam hidangan dan dua botol arak Wuliangye.
Kalau saja Chen Yu tidak menahan, Qi Bowen pasti sudah memesan lebih banyak lagi.
“Saudaraku Chen, kali ini aku yang traktir. Kau harus makan dan minum sepuasnya,” ucap Qi Bowen dengan penuh semangat.
Chen Yu tersenyum, “Profesor Qi, Anda sungguh terlalu sopan. Kalau nanti ada yang bisa kubantu, tinggal bilang saja.”
“Itu yang kutunggu-tunggu.” Qi Bowen tertawa, mengangkat gelas araknya, “Adik, kemampuanmu dalam menilai barang antik benar-benar luar biasa. Kakak tua ini pasti akan sering merepotkanmu di masa depan. Mari, kita minum.”
Chen Yu bersulang dengannya, lalu menyesap sedikit arak.
Ia memang tidak terlalu suka arak putih, tapi dua gelas kecil masih sanggup diteguknya.
Baru saja menaruh gelas, telepon dari Chang Wei masuk. Dengan ramah, ia bertanya Chen Yu sedang di mana. Setelah diberi alamat, Chang Wei bilang akan segera menyusul.
Setelah menutup telepon, Qi Bowen mengedipkan mata penuh rasa ingin tahu, “Patung Kuda Berlari itu sudah dibeli gadis cantik itu. Sebenarnya kau dan dia ada hubungan apa?”
“Tak ada hubungan apa-apa,” jawab Chen Yu.
Melihat Chen Yu enggan bicara lebih lanjut, Qi Bowen pun tak bertanya lagi. Ia ganti bertanya, “Bagian mana dari Kuda Berlari itu yang palsu? Sampai sekarang aku masih belum bisa menebaknya.”
Chen Yu baru hendak menjelaskan, tapi tiba-tiba pintu ruang VIP didorong terbuka.
Beberapa pemuda berpenampilan urakan masuk dengan langkah jumawa. Salah satunya, pemuda berambut cepak sambil mengulum rokok, berbicara dengan nada arogan, “Kamar ini sekarang milik kami, kalian cari tempat lain saja.”
Qi Bowen menggeleng, “Tidak bisa, kami sedang makan.”
“Sial, tua bangka, sudah dikasih muka tidak tahu diri?”
Wajah pemuda cepak berubah masam, matanya melotot, “Aku bicara baik-baik tidak mempan, harus dimaki dulu baru senang, ya?”
Qi Bowen naik pitam, “Kenapa harus memaki orang? Waktu kau sekolah, gurumu tidak pernah mengajarkan sopan santun?”
“Wah, baru juga!” Pemuda cepak itu tertegun sejenak, lalu mencibir, “Ternyata kau guru ya, tua bangka? Sampai bego gara-gara kebanyakan ngajar! Lihat wajah bodohmu! Hari ini kamar ini dipesan oleh Bos Qian dari Gaoling Konstruksi!”
“Bos Qian itu kaya raya, hartanya miliaran, punya kekuasaan, mana bisa kau, guru kampungan, melawan? Cepat angkat kaki!”
Qi Bowen sangat marah.
Walaupun usianya sudah tua, tapi seumur hidupnya ia selalu berada di lingkungan akademisi, dikelilingi orang-orang terpelajar.
Setelah pensiun, di dunia barang antik pun ia dikenal sebagai tokoh yang dihormati.
Kapan pernah ia diperlakukan seperti ini?
“Jangan kira di luar sekolah tak ada yang bisa menertibkan kalian!” Qi Bowen geram, mengeluarkan ponselnya, “Aku akan telepon muridku sekarang juga!”
“Wah, muridmu dari geng mana?” Pemuda cepak itu mengejek.
“Muridku dari Enam Pintu!” Qi Bowen membalas dengan marah.
“Lugu sekali kau!” Pemuda cepak tertawa terbahak, “Baru tadi malam kami makan malam bareng bos Enam Pintu. Kau panggil saja mereka, tak ada gunanya!”
Qi Bowen sampai gemetar menahan amarah.
Chen Yu menarik lengannya, berusaha menenangkan, “Profesor Qi, tak perlu kau layani orang seperti mereka. Nanti malah jatuh sakit.”
Kemudian ia menatap pemuda cepak itu, suara dingin keluar dari bibirnya, “Bos Qian kalian itu siapa sih? Aku tak pernah dengar namanya.”
Pemuda cepak itu langsung naik darah, “Sial, kau bicara apa tadi? Cari mati, ya?!”
Beberapa pemuda lain juga menatap Chen Yu dengan tatapan liar.
Chen Yu memandang mereka dengan tenang, “Suruh bos kalian datang ke sini dan minta maaf. Kalau tidak, tanggung sendiri akibatnya.”
“Sialan kau!” Pemuda cepak maki-maki, melompat ke meja dan langsung menendang kepala Chen Yu.
Dengan sekali putaran badan, Chen Yu mengayunkan tendangan cambuk tinggi yang langsung menghantam pinggang pemuda itu hingga terbang!
Braak!
Pemuda itu mendarat keras di pojok ruangan, menabrak lemari hingga hancur berantakan.
Perutnya terasa melilit dan kejang hebat, seakan ususnya putus, lama tak bisa bangkit.
Beberapa pemuda lain sampai melongo ketakutan.
Pemuda cepak itu yang biasanya paling jago berkelahi di antara mereka, baru sekali serang sudah tumbang. Kalau mereka ikut maju, pasti nasibnya lebih parah.
“Berani, tunggu saja kau!”
Setelah mengucap itu, mereka pun lari keluar mencari bala bantuan.
...
Qi Bowen terlihat cemas. Ia menoleh ke arah Chen Yu dan berbisik, “Kurasa mereka pergi memanggil teman-teman mereka. Bagaimana kalau aku telepon muridku saja?”
Chen Yu tetap santai, bahkan sempat bercanda, “Bukankah kau profesor arkeologi? Kok murid arkeologi bisa kerja di Enam Pintu?”
Qi Bowen menghela napas, “Susah cari kerja, akhirnya ikut tes CPNS saja. Walaupun bukan di bidangnya, tapi kabarnya sekarang dia cukup berhasil...”
Chen Yu melambaikan tangan, “Biar aku yang urus. Tak perlu repot-repot memanggil orang lain.”
Tak lama kemudian, beberapa pemuda tadi masuk lagi mengiringi seorang pria paruh baya bertubuh pendek dan gemuk.
Pria itu berwajah garang dengan banyak daging di pipinya, lehernya tergantung rantai emas besar, di ketiaknya menenteng tas kerja hitam, dan di mulutnya terselip cerutu.
Aura preman begitu kental terasa.
“Bos, inilah orangnya!” Salah satu pemuda menunjuk Chen Yu.
Bos Qian mengisap cerutunya, menghembuskan asap, lalu menatap Chen Yu dengan mata menyipit. Setelah itu, ia mendengus dan bertanya dengan suara dingin, “Anak muda, kau berani-beraninya melukai anak buahku? Kau memang punya nyali.”
“Aku memang melakukannya. Lalu kenapa?” jawab Chen Yu.
“Kenapa?” Wajah Bos Qian menjadi gelap, ia menunjuk Chen Yu dengan tatapan kejam, “Saat aku merajalela di luar, kau masih main tanah liat di rumah!”
“Dengar baik-baik, di wilayah Zhonghai ini, belum pernah ada yang berani menantangku!”
“Jangan salahkan aku tak memberi kesempatan. Cepat sujud dan minta maaf, mungkin kau masih bisa lolos hidup-hidup. Paham?!”
“Tsk, Qian si Delapan, sejak kapan kau jadi jagoan di Zhonghai?” Tiba-tiba, terdengar suara sinis dari pintu.
Bos Qian menoleh ke arah suara itu.
Ternyata seorang pria paruh baya bertubuh kekar berdiri di ambang pintu, menatapnya dengan penuh ejekan.
“Sial, kau siapa berani bicara seperti itu pada bos kami? Mau mati, ya?!” Anak buah Bos Qian langsung meraung marah.
Dunia sudah keterlaluan, pikir mereka. Seorang bos kaya raya dengan kekayaan miliaran, malah terus-menerus diremehkan orang.
“Jaga anjingmu, jangan asal menggonggong,” pria kekar itu membalas dengan wajah dingin, menatap tajam ke arah Bos Qian.
“Apa kau yang suruh bicara? Dasar tolol!” Bos Qian tiba-tiba menampar anak buah yang tadi bicara.
Anak muda itu kebingungan, “Bos, ada apa ini?”
“Dasar mata buta!” Bos Qian hampir saja mati karena kesal.
Anak buahnya benar-benar tak tahu diri, bahkan tak mengenali kepala pelayan keluarga Su, Chang Wei?
Ia tak mau peduli lagi pada gerombolan bodoh itu, segera melangkah maju dengan wajah penuh senyum, “Kakak Chang, maafkan saya. Anda juga ke sini rupanya?”