Bab 8 Persaingan Kakak Beradik
Setelah makan malam, di samping meja batu, sepasang kakak beradik keluarga Gu duduk berhadapan.
Gu Qingcheng mengulurkan tangannya yang lentik, membuat sudut mulut Gu Haoxuan sedikit berkedut.
"Ini kesempatan terakhirmu. Kamu masih bisa menyerah sekarang."
"Tidak ada yang bisa menghalangi tekadku untuk mencari uang," tegas Gu Qingcheng.
"Semangat, Bibi! Semangat, Guru!" si kecil Jingyan dengan antusias menyemangati bibi sekaligus gurunya yang juga teman makannya itu.
Kedua tangan mereka bertaut. Gu Haoxuan berkata, "Mulai."
Demi membuat Gu Haoxuan mengaku kalah dengan sukarela, Gu Qingcheng tidak langsung mengerahkan tenaga untuk menjatuhkan tangan kakaknya. Ia memilih bertahan, membiarkan Gu Haoxuan berusaha sekuat tenaga.
Gu Haoxuan pun awalnya tidak menggunakan kekuatan penuh, berniat menjaga harga diri adiknya. Namun, perlahan ia menyadari ada yang tidak beres. Lawannya tampak belum mengeluarkan tenaga sungguhan, maka ia mulai mengerahkan kekuatan. Tiga puluh persen...
Lima puluh persen...
Seratus persen...
Keringat mulai bercucuran di pelipisnya, namun tangan adiknya tidak bergeser sedikit pun.
Melihat waktunya sudah tepat, Gu Qingcheng sedikit menekan tangannya.
Ekspresi Gu Haoxuan berubah seolah melihat hantu. "Aku kalah... bagaimana mungkin aku kalah?"
Gu Qingcheng menggaruk hidungnya dengan canggung. "Itu, mungkinkah karena aku ini jenius bela diri?"
Gu Haoxuan terdiam.
"Coba peragakan teknik telapak tangan keluarga Gu yang kamu pelajari, biar kulihat di mana letak kesalahannya."
Gu Haoxuan mengatakannya dengan begitu percaya diri, sementara Gu Qingcheng merasa keringat dingin membasahi punggungnya.
Ia dengan cepat mengingat memori pemilik asli tubuh ini saat belajar bela diri di masa kecil. Hatinya semakin berdebar, bukankah ini teknik telapak tangan yang diajarkan kepada prajurit baru di pasukan keluarga Gu?
Mungkinkah sekolah keluarga Gu juga mengajarkannya? Keluarga Gu yang sekarang, kemungkinan besar masih memiliki kaitan dengan keluarga Gu ribuan tahun lalu.
Dalam ingatan pemilik asli, perhatian hanya tertuju pada teknik telapak tangan, sementara teknik langkah kaki memiliki perbedaan besar. Ia menduga kakaknya ini pun mempelajari versi yang sama kelirunya dengan pemilik asli.
Memikirkan hal itu, ia segera bangkit dan memperagakan teknik telapak tangan keluarga Gu dengan cepat di depan Gu Haoxuan.
Gu Haoxuan mengamati setiap gerakan Gu Qingcheng dengan saksama. Ia menyadari gerakan itu terasa familier, namun berbeda dengan apa yang ia pelajari.
Pada peragaan pertama, ia melakukannya dengan gerakan lambat agar kakaknya bisa melihat dengan jelas. Pada peragaan kedua, hanya bayangan yang terlihat, saking cepatnya gerakan itu.
Gu Haoxuan ternganga tak percaya.
"Ini? Ini... ini yang diajarkan di sekolah dasar Desa Gu? Rasanya berbeda dengan yang kupelajari..."
Gu Qingcheng menggaruk hidungnya dengan canggung. "Ah? Benar, itu ditambah dengan pemahamanku sendiri."
"Sudahlah, terserah apa yang ingin kamu lakukan. Hanya saja, jangan lupa pulang, kami akan khawatir," ucap Gu Haoxuan dengan pasrah. Ia mengakui kekalahannya; ia memang kalah dalam hal kemampuan.
Di dalam hati, ia bertanya-tanya, apakah adiknya benar-benar seorang jenius bela diri seperti yang ia katakan?
Gu Haoxuan tidak meragukan bahwa jika ia tidak membuat kesepakatan, adiknya mungkin akan pergi ke gunung dan tak tahu kapan akan kembali.
Saat itu, Ibu Gu dan Lin Xiyue hanya bisa terpana. Sebagai menantu keluarga Gu, mereka tidak menyangka sekolah dasar Desa Gu begitu hebat hingga mengajarkan segalanya. Mengapa anak perempuan pun harus berlatih bela diri?
Lin Xiyue, yang dibesarkan di lingkungan militer, tahu betul bahwa teknik ini berbeda dari bela diri militer yang ia kenal. Benih keraguan tertanam di hatinya; keluarga Gu, atau bahkan seluruh Desa Gu, bukanlah tempat yang sederhana.
Ibu Gu melangkah maju dan menggenggam tangan Gu Qingcheng. "Nak, untuk apa kamu mempelajari semua ini? Kalau orang luar tahu, bagaimana kamu akan mencari pendamping hidup nanti?"
Gu Qingcheng tahu alasan di balik hal itu dari memori pemilik asli.
"Bu, tidak usah bicara soal mencari pendamping dulu. Kami belajar ini hanya untuk perlindungan diri, bukan untuk memukul orang."
"Hmph, siapa yang tahu? Kalau sudah menikah nanti dan suami istri bertengkar, bisa-bisa salah satu celaka..."
Ibu Gu merasa seolah baru saja menemukan sesuatu yang luar biasa. Di desa asal ibunya, ada seorang pemuda yang menikahi gadis dari Desa Gu. Setelah menikah, pemuda itu menjadi penjudi dan sering memukuli istri serta anaknya. Tak lama kemudian, pemuda itu ditemukan tewas di luar desa. Mungkinkah...?
Semakin dipikirkan, Ibu Gu semakin ketakutan. Ia merasa telah mengungkap sebuah kebenaran.
Kepergian Gu Qingcheng ke gunung sudah menjadi keputusan mutlak. Gu Haoxuan memberikan pisau belati militer koleksinya kepada adiknya.
Gu Qingcheng memainkan pisau itu, namun merasa ketajamannya biasa saja. Ia sangat merindukan pedang yang ditempa khusus untuknya oleh sang ahli pedang legendaris. Tak disangka, setelah seribu tahun lebih, keahlian menempa senjata justru semakin menurun.
Ia tidak menyangka bahwa pemikirannya akan terbantahkan kelak. Saat ia berdiri di menara kota yang tinggi dan menyaksikan parade militer, ia merasa sangat malu. Di zaman sekarang, senjata yang ia gunakan dulu sudah tidak dipakai lagi dalam pertempuran.
Keesokan harinya, Gu Qingcheng menjaga keponakannya. Ibu Gu mengukus roti bakpao putih dan menggoreng sebotol saus daging untuknya.
Siang harinya, saat Lin Xiyue pulang untuk menyusui, ia membawakan cangkul obat dan sekop kecil, serta keranjang besar untuk Gu Qingcheng.
Malam harinya, setelah makan, Gu Haoxuan dengan misterius mengeluarkan sebuah pemantik api.
"Lihat ini, Xiao Cheng."
Gu Qingcheng melihat kotak besi kecil di tangan kakaknya terbuka dan mengeluarkan api kecil.
Hal itu mengingatkan Gu Qingcheng pada alat pemantik kuno. Fungsinya hampir sama, namun ia tetap menghargai kakaknya.
"Wah, apa ini? Bagaimana bisa menyala? Ajaib sekali."
Gu Haoxuan puas dengan reaksi adiknya. "Ini untukmu. Mungkin berguna di gunung. Tapi ingat, pastikan api padam sepenuhnya setelah digunakan. Kebakaran hutan adalah dosa besar."
Gu Qingcheng memutar bola mata, mengambil pemantik itu, dan memasukkannya ke saku.
"Tanpa kamu bilang pun aku tahu."
Selanjutnya, Gu Haoxuan memaksanya menghafal pengetahuan bertahan hidup di alam liar.
"Sudah, sudah. Semalam suntuk kita bahas ini, aku sudah hafal semuanya."
Gu Qingcheng berlari kembali ke kamar dan melihat si kecil sedang duduk bersila di atas tempat tidur dengan wajah cemberut.
"Kenapa belum tidur? Sedang berlagak apa di sini?"
"Hmph, Guru pergi ke gunung tidak mengajakku."
"Kamu masih terlalu kecil, nanti justru menghambat kecepatanku mencari uang. Coba pikir, kalau Bibi sudah dapat uang dan beli makanan enak, bukankah kita akan makan bersama?"
Berkat iming-iming makanan enak, kesepakatan tercapai. Gu Qingcheng pergi ke gunung mencari obat, sementara Gu Jingyan ikut ibunya ke tempat penitipan anak di rumah sakit.
Keesokan harinya, sebelum fajar menyingsing, Gu Qingcheng sudah menggendong keranjang berisi alat pencari obat dan sebuah kantong plastik besar. Ia yakin akan kembali dengan hasil melimpah.
Ia keluar dari kompleks perumahan dan berlari menuju pegunungan. Sepanjang perjalanan, ia meninggalkan tanda hingga masuk ke kedalaman hutan. Saat menengadah, matahari baru saja terbit.
Gu Qingcheng menemukan batu besar yang rata, meletakkan keranjangnya, dan berbaring di sana untuk beristirahat. Memandang langit biru dan burung-burung yang terbang bebas, ia merasa sangat lega. Tanpa beban keluarga, tanpa tanggung jawab, ini adalah zaman yang damai dan cocok untuk kehidupan rakyat jelata.
Ia membuka botol air, meneguknya, lalu membelah roti bakpao yang disiapkan Ibu Gu, mengolesinya dengan saus daging, dan memakannya dengan lahap.
Teknologi penggilingan tepung di tahun tujuh puluhan jauh lebih canggih daripada zaman kuno. Bagi Gu Qingcheng, roti bakpao ini terasa seperti makanan kelas atas yang hanya bisa dinikmati kaisar.
Setelah makan, ia memanggul keranjangnya dan memulai misi mencari uang. Ia berjalan semakin dalam ke hutan, tempat yang jarang dijamah orang karena konon ada binatang buas. Orang biasa tentu takut tidak bisa kembali dengan selamat.
Namun, hal itu justru menguntungkan bagi Gu Qingcheng yang pemberani.