Bab 17: Istri yang sudah kudapat ingin kabur?
Halaman (1/3)
Sambil bercanda dan tertawa, mereka berdua berjalan menuju kota kabupaten. Bagi pasangan muda, tempat paling cocok untuk berkencan tentu saja bioskop.
“Xiaocheng, bagaimana kalau kita menonton film dulu?”
“Film? Baiklah.”
Gu Qingcheng teringat bahwa tubuh aslinya pernah menonton film. Setiap tahun, setelah panen musim gugur selesai, lapangan pengirik di dekat desa selalu digunakan untuk pemutaran film.
Memiliki ingatan tentang sesuatu dan mengalaminya sendiri ternyata benar-benar berbeda. Karena itu, Gu Qingcheng sangat menantikan pengalaman menonton film kali ini.
Di depan bioskop terpampang poster-poster lukisan tangan yang mengumumkan film-film yang akan diputar dalam beberapa hari ke depan.
Gu Qingcheng memandangi poster yang digambar dengan kapur warna-warni. Pikirannya kembali bergerak aktif. Kalau ia bisa mendapatkan tinta berwarna, bukankah ia juga dapat melukis potret manusia yang tampak hidup?
Jiang Yichen menyimpan sepeda mereka, lalu melihat Gu Qingcheng sedang berdiri termenung di depan poster.
Dengan suara lembut ia bertanya, “Ada apa, Xiaocheng?”
Gu Qingcheng tersadar dari lamunannya. Jiang Yichen berasal dari ibu kota, jadi ia membayangkan bahwa di sana pasti tersedia lebih banyak barang bagus.
“Tidak apa-apa. Yichen, di ibu kota ada tinta berwarna, tidak?”
Ia tahu bahwa orang zaman sekarang sudah menggunakan tinta siap pakai untuk menulis kaligrafi dengan kuas, tanpa perlu menggerus tinta terlebih dahulu.
Tinta berwarna? Apa maksudnya? Jiang Yichen sempat dibuat bingung. Kemudian, sesuatu melintas di benaknya.
“Ada cat. Saat melukis, cat itu perlu dicampur dan diencerkan.”
“Kalau begitu, bisakah kau membelikannya?”
“Selama kau menginginkannya, tentu aku bisa mendapatkannya.” Jiang Yichen memberikan janjinya.
Duduk di dalam bioskop, Gu Qingcheng tampak sangat ingin tahu. Ia menoleh ke sana kemari, memperhatikan segala sesuatu di sekelilingnya.
Layar menyala. Suara terdengar. Gambar-gambar mulai bergerak. Gu Qingcheng akhirnya merasakan sendiri kesenangan menonton film. Bagaimana harus mengatakannya? Lumayan.
Pengalaman itu sungguh ajaib, jauh lebih menarik dibandingkan pertunjukan wayang kulit yang pernah ia tonton di kehidupan sebelumnya.
Setelah keluar dari bioskop, mereka pergi ke gedung perbelanjaan. Tujuan pertama adalah membeli permen dan kue.
Jiang Yichen kemudian membawanya ke konter pakaian jadi. Mendengar harga yang disebutkan pelayan, Gu Qingcheng tidak pernah merasa sayang mengeluarkan uang untuk membeli makanan, tetapi entah mengapa hari ini ia merasa membeli pakaian sedikit tidak sepadan.
Ia mengulurkan tangan kecilnya dan menarik lengan baju Jiang Yichen.
“Yichen, sudahlah, tidak usah membeli. Aku masih punya pakaian untuk dipakai.”
Jiang Yichen mengalihkan pandangan dari pakaian, lalu menunduk dan tersenyum kepadanya.
“Xiaocheng, jangan khawatir. Kakak punya uang. Menghidupimu bukan masalah.”
Halaman (1/3)
Halaman (2/3)
Senyum tipis Jiang Yichen membuat Gu Qingcheng terpana. Tanpa sadar, ia menjawab, “Baik.”
Akhirnya mereka membeli sebuah jaket model Lenin, sebuah kemeja kotak-kotak, serta dua celana panjang berwarna hijau tentara.
Setelah tersadar, Gu Qingcheng segera menarik Jiang Yichen.
“Sudah cukup, sudah cukup.”
Setelah keluar dari gedung perbelanjaan, barang-barangan mereka dibawa dengan sepeda. Jiang Yichen kemudian mengajaknya pergi ke rumah makan milik negara.
Dalam hal makanan, Gu Qingcheng tidak pernah pilih-pilih. Selama rasanya enak, ia akan memakannya. Bahkan makanan kasar pun dapat ditelannya tanpa mengernyitkan dahi.
Mereka memesan empat hidangan, dua lauk daging dan dua sayuran, serta masing-masing satu kati pangsit.
Meskipun Gu Qingcheng kuat dan memiliki nafsu makan besar, hari ini ia tetap kalah di hadapan seorang pria, terlebih pria itu seorang tentara. Ia hanya menghabiskan sepertiga makanan, sementara sisanya masuk ke perut Jiang Yichen.
Yang satu sedang menjadi tentara, sedangkan yang satu pernah menjadi tentara. Gu Qingcheng dapat memahami mengapa mereka makan begitu banyak. Itulah sebabnya pada zaman mereka, kebanyakan pemuda kaya belajar ilmu bela diri.
Rakyat biasa tentu tidak berani membiarkan anak-anak mereka mempelajari bela diri. Nafsu makan mereka bisa membuat keluarga bangkrut. Namun, para prajurit rendahan yang maju ke garis depan kebanyakan berasal dari keluarga petani. Jika ingin tetap hidup, mereka harus menempa diri di medan perang.
Melihat beberapa piring kosong di atas meja, Gu Qingcheng berdiri.
“Ayo pergi.”
Saat pintu kompleks perumahan keluarga dibuka, Ibu Gu melihat Jiang Yichen membawa banyak barang ke dalam rumah dan bertanya sambil lalu,
“Apa saja itu?”
“Ibu, semua ini makanan dan pakaian yang dibelikan Yichen untukku.”
Ibu Gu memijat keningnya, lalu menatap putrinya dengan pusing.
“Kalau dia membelikanmu, kau langsung menerimanya? Kenapa tidak sedikit mencegahnya?”
Gu Qingcheng menjawab dengan penuh keyakinan, “Bukankah memang seharusnya begitu kalau dia membelikanku? Kalau seorang pria bahkan tidak mampu menghidupi perempuan, untuk apa dipertahankan? Seharusnya memang pria yang menafkahi keluarga.”
Dalam pikirannya, pria memang seharusnya menghidupi keluarga. Mas kawin milik perempuan merupakan harta pribadi dan tidak boleh disentuh siapa pun. Namun, melihat keadaan sekarang, semua keluarga hidup miskin, jadi mungkin tidak ada banyak mas kawin yang bisa dibicarakan.
Semua orang di dalam rumah tertegun mendengar ucapan Gu Qingcheng. Harus diketahui, dalam masyarakat masa kini, perempuan mampu menopang separuh langit. Baik buruh di kota maupun petani di desa yang bekerja demi memperoleh poin kerja, semuanya harus bekerja, kecuali anak-anak kecil yang belum mengerti apa-apa.
Tak seorang pun tahu apa yang ada di dalam kepala Xiaocheng. Pemikirannya benar-benar berbeda dari orang lain.
Jiang Yichen tidak menunjukkan ketidakpuasan sedikit pun.
“Benar. Aku mampu menghidupimu.”
Sampai di titik ini, Gu Haoxuan terpaksa menunjukkan wibawanya sebagai kakak tertua.
“Xiaocheng, pemikiranmu itu tidak benar. Sebuah keluarga perlu dikelola bersama oleh suami dan istri. Tidak ada pihak yang seharusnya terus-menerus berkorban sementara pihak lainnya hanya menikmati hasilnya. Sebagai orang yang hanya menikmati, tidakkah kau merasa tidak tenang?”
Halaman (2/3)
Halaman (3/3)
Gu Qingcheng mengerutkan kening. Di tempat asalnya, sejak dahulu pria bertugas mencari nafkah di luar, sementara perempuan mengurus rumah. Mengapa di tempat ini hal semacam itu justru dianggap salah?
“Sudahlah. Kalau aku memang mampu menghidupi diriku sendiri, untuk apa aku mencari seorang pria? Hanya karena dia tampan? Ketampanan tidak bisa dimakan.”
Melihat istri yang hampir didapatnya akan terbang begitu saja, Jiang Yichen segera maju untuk menyatakan kesungguhannya kepada Gu Qingcheng.
“Xiaocheng, aku tidak peduli bagaimana keluarga orang lain menjalani hidup. Perempuan yang ingin kunikahi adalah seorang istri. Kalau kau bersedia menikah denganku, aku pasti sanggup menghidupimu.”
Gu Qingcheng memutar bola matanya, lalu tiba-tiba mendapatkan sebuah gagasan yang sangat bagus.
“Aku sudah memikirkannya. Kalau ingin menikah denganku, ada satu syarat.”
“Apa syaratnya?” Jiang Yichen buru-buru bertanya.
“Anak laki-laki kedua yang kulahirkan harus memakai margaku. Kalau tidak, lupakan saja. Tentu saja, semua biaya hidup dan pendidikannya akan kutanggung sendiri. Tak seorang pun boleh ikut campur.”
Alasan Gu Qingcheng begitu bersikeras agar anak itu memakai marganya tidak lain karena ia tidak ingin garis keturunan keluarga Gu terputus. Meskipun sekarang ia sedang membina keponakannya sebagai penerus, ia tetap merasa bahwa tanggung jawab itu berada di pundaknya.
Sungguh, tuntutannya semakin lama semakin tidak masuk akal. Bukankah itu jelas-jelas berarti ia tidak ingin menikah?
Jiang Yichen pun menggaruk kepalanya. Sejak dahulu, anak-anak selalu mengikuti marga ayah. Kalau mengikuti marga ibu, bukankah itu hanya terjadi ketika seorang pria menikah ke dalam keluarga perempuan? Dengan keadaannya, mustahil ia melakukan hal semacam itu.
Melihat keraguan di wajahnya dan mengetahui bahwa masalah ini tidak boleh dipaksakan, Gu Qingcheng berkata kepada Gu Haoxuan,
“Kalau begitu, tolong Kakak pilihkan pria lain untukku. Sebaiknya seorang yatim piatu yang tidak memiliki ayah maupun ibu. Dengan begitu, dia bisa menikah masuk ke keluarga kita.”
Keluarga Gu...
Jiang Yichen...
Istri yang sudah berada di depan mata benar-benar akan terbang.
“Aku setuju, aku setuju anak laki-laki kedua memakai margamu.”
Tak seorang pun tahu betapa teguhnya Gu Qingcheng dalam mempertahankan kelanjutan garis keturunan keluarga. Begitu mendengar Jiang Yichen menyetujuinya, wajahnya langsung berseri-seri.
Ia segera menyatakan sikapnya kepada Jiang Yichen.
“Yichen, jangan khawatir. Setelah menikah, aku pasti akan melahirkan banyak anak untukmu. Kau tidak akan rugi.”
Jiang Yichen hanya bisa memasang wajah masam. Ia... sepertinya tidak pernah bermaksud demikian.
“Xiaocheng, kurasa kau masih belum memahami maksudku. Aku ingin menikah bukan karena menginginkan seorang anak, melainkan karena orang yang ingin kunikahi adalah dirimu.”
“Sama saja, sama saja. Itu tidak bertentangan dengan memiliki anak.”
Halaman (3/3)