Volume Satu Bab 60 Permohonan Maaf untuk Ibu Tiri
Makan malam yang awalnya berjalan lancar itu kini hancur gara-gara wanita itu.
Suasana hati Qin Xiaozhi juga ikut memburuk. "Sekelompok orang itu benar-benar sengaja datang untuk mencari masalah. Lagian, kau dan Pei Yanche kan tidak ada hubungan apa-apa, kenapa masih mengulang trik murahan seperti ini?"
Drama sepasang kekasih yang dipisahkan paksa ini sudah pernah dipentaskan sebelumnya. Jika diulang lagi sekarang, apa tidak merasa bosan?
Xu Tingli keluar dari ruang ganti setelah mengenakan kemeja putih baru, tampak segar dan bersemangat.
"Soal kejadian hari ini, aku akan menghubungi Pei Yanche. Kau tidak apa-apa?" Xu Tingli bahkan sengaja memeriksa tubuh Ning Xiang untuk memastikan tidak ada noda air.
"Aku tidak apa-apa, hanya saja suasana makan malam hari ini jadi tidak menyenangkan," Ning Xiang menggelengkan kepalanya.
Untung saja Xu Tingli tadi berdiri di hadapannya dan bereaksi dengan cepat.
"Sudahlah, mari kita buang jauh-jauh hal-hal tidak menyenangkan tadi dari pikiran kita."
Manajer restoran juga mengirimkan beberapa hidangan kecil serta kupon bebas biaya.
Makan malam pun usai.
Rombongan itu berjalan di sepanjang jalan raya yang luas, dan Xu Tingli berinisiatif menawarkan diri untuk mengantar mereka pulang.
Namun, Ning Xiang dan Qin Xiaozhi berniat berjalan-jalan santai di tepi jalan sambil menikmati angin malam.
Xu Tingli tidak memaksa dan memilih untuk pulang bersama putrinya.
Angin malam yang lembut membelai pipi, membuat Ning Xiang merasa tenang dan segar. Ia berjalan di sepanjang jalan kecil sambil merentangkan kedua lengannya, seolah menyambut kedatangan angin dengan seluruh jiwa raga.
"Rasanya sangat nyaman. Sejak meninggalkan Desa Hong, aku tidak pernah merasakan angin sepoi-sepoi yang begitu menyenangkan," kata Qin Xiaozhi sambil ikut merentangkan lengannya penuh semangat.
Ning Dudu justru merasa tingkah laku mereka berdua sangat keanak-anakan.
Angin malam di mana pun sebenarnya sama saja, tidak ada bedanya.
Yang membedakan adalah orangnya dan situasi saat ini.
...
Keluarga Xu.
Begitu tiba di rumah, Xu Tingli mendesak putrinya untuk segera tidur.
Ia kemudian berjalan ke arah balkon untuk menelepon Pei Yanche.
"Ada apa?"
Begitu sambungan terhubung, terdengar suara dingin tanpa ada fluktuasi emosi dari ujung sana.
"Kenapa, memangnya aku tidak boleh mencarimu? Apakah kita sudah tidak punya hubungan emosional sama sekali sekarang!" Xu Tingli pura-pura memasang ekspresi marah.
Ia sengaja melontarkan pertanyaan itu melalui telepon.
"Kalau kau punya banyak waktu luang seperti ini, lebih baik gunakan untuk mencari lebih banyak uang." Pei Yanche bersiap menutup telepon.
"Jangan buru-buru, aku belum menyampaikan hal penting. Hari ini aku makan di salah satu restoran milikmu dan melihatnya."
"Orang yang bersamaku adalah ibu Dudu. Kenapa dia begitu memusuhi ibu Dudu?"
Xu Tingli merasa sangat heran. Keduanya seharusnya adalah garis sejajar yang tidak akan pernah bersilangan, bagaimana mungkin bisa saling kenal?
Selain itu, nada bicara wanita itu sama sekali tidak ramah dan bahkan menyiramkan air ke arahnya.
"Ibu Dudu? Ning Xiang?"
Xu Tingli mengangguk. "Ya, malam ini kami kebetulan makan bersama dalam satu kelompok."
Kedua anak mereka adalah teman sekelas, jadi berkumpul untuk makan bersama bukanlah hal yang aneh, bukan?
"Aku sudah tahu soal ini, akan aku urus. Terima kasih."
Pei Yanche tidak mengucapkan sepatah kata sia-sia pun dan langsung menutup telepon dengan tegas.
Berdiri di balkon sambil menatap pepohonan yang terus bergoyang di luar, Xu Tingli mendongak dan melihat bulan yang tampak samar-samar.
Bulan bersembunyi di balik langit, sesekali menampakkan wujudnya sementara cahaya lembutnya menyinari bumi.
"Menurutmu, apakah aku tidak seharusnya memberitahunya tentang hal ini?"
Suara langkah kaki terdengar dari belakang.
Xu Tingli dan istrinya berpelukan erat.
"Lagian, gadis itu diperlakukan tidak adil, wajar saja kalau hal itu dikatakan padanya."
Xu Tingli mengangguk. "Sayang, bagaimana penampilanku hari ini? Aku kan sudah bertindak sebagai pahlawan yang menyelamatkan wanita cantik dengan menghalangi cipratan air untuk Ning Xiang tadi."
Baru saja ia selesai berbicara dengan nada penuh kemenangan, keningnya langsung disentil dua kali.
"Manusia itu tidak boleh terlalu sombong dan besar kepala. Sudah, cepat cuci muka sana dan tidur."
...
Begitu Pei Yanche mengetahui bahwa wanita itu kembali mengganggu Ning Xiang, meskipun ia merasa lelah setelah bekerja seharian penuh.
Ia tetap meminta Xiaoluo menyetir untuk kembali ke kediaman keluarga besar Pei.
Mobil berhenti di depan gerbang, dan Pei Yanche melangkah masuk.
Kediaman keluarga Pei masih tampak terang, seolah ada seseorang yang sedang menantinya pulang.
Begitu ia melangkah masuk, sebuah kemoceng melayang ke arahnya, namun Pei Yanche berhasil menghindar ke sisi kiri.
"Kau masih ingat jalan pulang? Kau masih tahu kalau ini rumahmu!" Nyonya Pei berkata dengan nada tidak sabar, lalu menoleh menatap putra durhakanya itu.
"Ibu, aku sudah bilang, jangan lagi mencari masalah dengan Ning Xiang. Dia tidak bersalah."
"Sekali lagi aku tegaskan, aku tidak menyukai Ji Zhaozhao, jadi jangan coba-coba menjodohkannya denganku lagi."
Pei Yanche duduk di sofa dengan menyilangkan kaki sambil berkata tanpa berdaya.
"Kau mungkin tidak menyukainya sekarang, bukan berarti selamanya tidak suka. Perasaan itu bisa dipupuk seiring berjalannya waktu," ucap Nyonya Pei dengan ketus. Apa yang diketahui oleh anak muda sepertinya.
"Garam yang kubonsumsi jauh lebih banyak daripada nasi yang kau makan."
Nyonya Pei pun mulai menceramahinya panjang lebar. Di usianya yang sudah tidak muda lagi, putranya ini bukan hanya belum menikah, bahkan tidak memiliki seorang istri pun sekarang.
Ia hampir menjadi bahan tertawaan di kalangan sosialita. Coba lihat keluarga Xu, mereka bahkan sudah menggendong cucu perempuan.
Hanya saja, keluarga Xu tampaknya akan segera hancur karena terjerat oleh wanita jalang itu.
Pei Yanche merasa seperti ada ribuan ekor nyamuk yang berdengung di telinganya. Hatinya menjadi kusut dan ia sama sekali tidak berminat mendengarkan omelan ini.
"Ibu, aku tegaskan sekali lagi, jangan pernah pergi untuk mengganggu Ning Xiang."
Setelah melontarkan kalimat itu, ia bangkit berdiri dan meninggalkan kediaman keluarga Pei.
Nyonya Pei melemparkan ponselnya ke sofa. Amarah di dalam dadanya meledak-ledak, bagaikan lahar pijar yang menyebar dan membakar segalanya.
Bibik Huang, yang bertanggung jawab atas kebersihan di kediaman keluarga Pei, keluar dari sudut ruangan.
"Nyonya, anak cucu memiliki rezekinya masing-masing. Anda adalah orang yang penuh keberuntungan, urusan anak-anak ini sebaiknya tidak usah terlalu dipikirkan," kata Bibik Huang sambil menyeka meja dengan kain lap.
Ia juga tidak mengerti apa yang dicemohkan oleh Nyonya Pei. Jika Tuan Muda ingin menikah, bukankah itu hal yang sangat mudah?
Wanita yang ingin menikah dengan Tuan Muda bahkan mengantre hingga ujung utara kota pun tidak akan ada habisnya.
"Bibik Huang, kau tentu tidak perlu khawatir. Putrimu itu bahkan sudah punya anak kedua, kan? Kau sudah sejak lama menggendong cucu," Nyonya Pei menghela napas.
Ia menghabiskan waktu seharian di rumah tua yang sepi ini. Biasanya ia hanya melakukan perawatan kecantikan bersama teman-teman lamanya atau pergi berjalan-jalan. Selain itu, hari-harinya terlalu membosankan.
Melihat teman-teman lamanya sudah menggendong cucu laki-laki dan perempuan, hatinya pun merasa sangat iri.
Sayangnya, pohon besi di keluarganya ini justru belum kunjung berbunga. Begitu berhasil menemukan menantu yang begitu baik, putranya malah tidak mau acuh.
Bibik Huang, yang sedang membersihkan debu dari vas bunga, berkata, "Nyonya tidak bisa berkata begitu. Meskipun putri saya sudah menikah."
Tetapi sejak menikah, berbagai macam masalah terus berdatangan menghampirinya. Melihat putrinya saja, usianya tampak menua tujuh atau delapan tahun seketika.
"Sudahlah, sudahlah. Kau tidak tahu saja, aku ini juga sedang menghadapi dilema."
Nyonya Pei berbalik dan naik ke lantai atas. Ia mencemaskan putranya yang tak kunjung memiliki kekasih, namun ia juga merasa tak berdaya.
"Oh ya, suruh Lao Li bersiap-siap besok pagi. Aku berencana pergi membakar dupa dan berdoa di kuil."
Saat tiba di belokan tangga, Nyonya Pei berpesan kepada Bibik Huang.
Lao Li adalah sopir pribadi keluarga, biasanya perjalanan Nyonya Pei selalu diantar olehnya.
"Baiklah, Nyonya, Anda tenang saja."
Keesokan paginya, Nyonya Pei terbangun perlahan dari tidurnya.
Tadi malam ia mengalami mimpi yang aneh, bermimpi bahwa dirinya sudah menggendong seorang cucu laki-laki.