Bab 58 Qiao Nian melompat turun dari mobil
Qin Muting pulang ketika waktu baru saja menunjukkan lewat pukul dua belas.
Nenek Xu di lantai bawah mendengar suara keributan dan keluar dari kamarnya.
"Tuan Qin, Anda sudah pulang. Selamat atas penghargaannya."
"Terima kasih." Qin Muting mengucapkan terima kasih, lalu bertanya, "Apakah Juanjuan sudah tidur?"
"Sudah, Nona Qiao sedang menemaninya."
Qin Muting sedikit terkejut: "Nona Qiao masih di sini?"
Dia tahu bahwa Qin Juanjuan membuat janji dengan Qiao Nian, tetapi dia tidak menyangka Qiao Nian belum pergi selarut ini.
Nenek Xu menjelaskan, "Juanjuan terus menempelinya dan tidak membiarkannya pergi. Nona Qiao juga orang yang baik hati, tidak tega menolaknya."
"Sungguh anak yang merepotkan, bukankah ini hanya menambah beban bagi Nona Qiao," kata Qin Muting tanpa berdaya.
Setelah berkata demikian, ia berjalan menuju lantai atas.
"Tuan Qin, Nona Qiao juga sudah tertidur. Melihatnya terlelap, saya tidak tega membangunkannya."
"Saya mengerti. Sudah larut, pergilah tidur juga."
Nenek Xu pun kembali ke kamarnya.
Setelah naik ke lantai dua, Qin Muting langsung menuju kamar tidur Qin Juanjuan.
Sebuah lampu baca menyala di dalam kamar tersebut.
Qin Muting berjalan mendekat dan menatap Qiao Nian serta Qin Juanjuan yang berada di atas ranjang.
Di bawah cahaya lampu yang hangat, Qin Juanjuan meringkuk dengan santai di dalam pelukan Qiao Nian, sementara Qiao Nian bernapas teratur dan tertidur pulas.
Karena tertidur, garis wajahnya tampak lebih lembut dibandingkan biasanya yang begitu memesona.
Melihat mereka yang tengah terlelap, hati Qin Muting yang gelisah dan penat mendadak merasa sedikit damai tanpa alasan.
Ia menoleh sekilas ke arahpendingin ruangan, lalu membungkuk dan menyelimuti Qiao Nian dengan selimut tipis.
Qiao Nian bergerak sedikit, tetapi tidak terbangun, ia hanya melingkarkan sebelah lengannya di tubuh Qin Juanjuan.
Melihat pemandangan itu, Qin Muting tersenyum tipis, lalu mematikan lampu kamar dan meninggalkan ruangan dengan langkah senyap.
Setelah selesai mandi dan mengenakan piyama, bersiap untuk tidur, bel rumah tiba-tiba berdering.
Alis Qin Muting sedikit mengerut.
Siapa yang datang pada jam segini?
Ia baru saja hendak menekan tombol interkom, ketika mendengar pintu telah terbuka.
Qin Muting melangkah keluar dari kamarnya.
Di koridor lantai dua, ia melihat Nenek Xu yang baru saja keluar dari kamar tidur.
"Bibi Xu, siapa yang datang?"
Nenek Xu mendongak, menatapnya dengan cemas dan berkata, "Tuan Gu."
Begitu kata-kata Nenek Xu jatuh, Gu Sui sudah melangkah masuk dengan cepat ke dalam rumah peristirahatan itu.
Ia langsung melihat Qin Muting yang berdiri di lantai atas.
Melihat Qin Muting mengenakan piyama, tatapannya berubah dingin.
"Apakah Qiao Nian ada di sini? Suruh dia keluar sekarang."
Begitu mengetahui bahwa orang yang datang adalah Gu Sui, Qin Muting mendadak terkejut.
Ia bahkan mengira Gu Sui tidak akan pernah datang ke tempat ini seumur hidupnya.
Namun sekarang, pria itu justru datang demi Qiao Nian.
"Bibi Xu, pergilah tidur." Qin Muting memberi isyarat kepada Nenek Xu untuk kembali ke kamarnya, baru kemudian berkata kepada Gu Sui, "Nona Qiao sedang tidur."
Begitu mendengar Qiao Nian sedang tidur, Gu Sui benar-benar tidak mampu lagi menahan amarah yang membara di dadanya.
Dengan nada suram, ia berkata, "Qin Muting, apakah kau harus merebut segala sesuatu dariku?"
Keduanya sudah bertahun-tahun tidak saling berbicara, dan kini percakapan pertama mereka langsung diwarnai ketegangan sengit.
Wajah Qin Muting yang biasanya tenang kini diliputi sedikit ketegasan.
Ia menuruni tangga tanpa terburu-buru.
"Aku tidak pernah merebut apa pun darimu. Sesuatu yang bisa direbut, berarti sejak awal memang bukan milikmu."
Udara di sekitar mendingin dalam sekejap.
Gu Sui menatap tajam ke arah Qin Muting dengan pandangan dingin, suaranya terdengar seolah diselimuti lapisan es.
"Jika kau punya nyali, ulangi kata-katamu tadi."
"Katakan berapa kali pun tidak masalah, tetapi Juanjuan sedang tidur sekarang. Jika kau ingin membangunkannya dan membuatnya melihat kita bertengkar, silakan saja teruskan kegilaanmu ini," ujar Qin Muting berdiri di tempatnya dengan ekspresi tanpa emosi.
Pernapasan Gu Sui menjadi berat karena amarah.
Ia mendongak menatap lantai atas, lalu mengucapkan setiap kata dengan penuh penekanan, "Kukatakan sekali lagi, suruh Qiao Nian keluar!"
Nadanya begitu mendominasi, tanpa menunjukkan sedikit pun rasa hormat kepada Qiao Nian.
Hal itu mau tidak mau membuat Qin Muting mengerutkan keningnya.
"Gu Sui, sudah bertahun-tahun berlalu, tetapi kau tetap tidak pernah bisa belajar menghormati orang lain."
"Menghormati?" Gu Sui tertawa dingin. "Kau tahu tidak apa hubungan antara aku dan dia?"
Qin Muting menatapnya dalam diam.
"Bagaimana pun bentuk hubungan kalian, setidaknya kau harus menghormatinya."
Sikap Qin Muting yang seperti itu tampak seperti sedang melindungi Qiao Nian.
Hal tersebut membuat Gu Sui sangat murka.
Ia mulai berbicara ngawur, "Di mana dia tidur? Di kamarmu?"
Wajah Qin Muting tenggelam dalam kemuraman yang pekat.
Gu Sui berkata, "Dia tidak lebih dari sepasang sepatu rusak yang sudah pernah ku kenakan, apa kau juga berniat memungutnya untuk kau pakai?"
"Gu Sui!!" Qin Muting sudah tidak dapat menahan diri lagi.
Pada saat itu, terdengar sebuah suara dari lantai atas, "Tuan Qin."
Itu adalah suara Qiao Nian.
Kedua pria di lantai bawah tertegun secara bersamaan, lalu mendongak ke atas.
Qiao Nian entah sejak kapan sudah berdiri di koridor lantai dua.
Ia menunduk, menatap ke arah bawah dalam diam.
Tidak ada lampu yang dinyalakan di dalam ruangan, satu-satunya sumber cahaya yang minim berasal dari lampu jalan di halaman, sehingga suasana di dalam rumah tampak agak remeh.
Ekspresi Qiao Nian tidak terlihat jelas.
Namun, suaranya terdengar tenang.
Hanya saja, ketenangan itu sangat mirip dengan suasana sesaat sebelum badai besar datang.
"Nona Qiao, maaf, kami telah membangunkanmu."
Qiao Nian tidak menjawab, ia langsung berjalan turun dari lantai atas.
Gu Sui menyaksikannya melangkah turun selangkah demi selangkah, perlahan-lahan mengepalkan tinjunya.
"Tuan Qin, aku harus pergi." Qiao Nian memungut tasnya yang berada di sofa dan berkata kepada Qin Muting, "Sampai jumpa."
Ia berjalan dua langkah, lalu tiba-tiba teringat sesuatu, ia berbalik dan berkata, "Selamat atas penghargaannya."
Wajah Qin Muting tampak serius, ia membalas, "Terima kasih."
Qiao Nian pun melangkah keluar dari rumah peristirahatan itu.
Sepeda listriknya terparkir di luar, dan saat ia baru saja mengeluarkan kunci dari tasnya, Gu Sui langsung merebutnya.
"Ikut aku."
Gu Sui mencengkeram lengannya.
Melihat hal itu, Qin Muting bertanya dengan nada khawatir, "Nona Qiao, sudah terlalu malam, perlukah aku mengantarmu?"
Qiao Nian menggelengkan kepalanya dan berkata, "Tidak perlu, Tuan Qin, aku baik-baik saja, tenang saja."
Mengingat Qin Juanjuan masih tidur, Qiao Nian tidak ingin bertengkar hebat dengan Gu Sui di tempat ini, maka ia pun mengikuti Gu Sui berjalan ke luar.
Qin Muting terus menatap ke arahnya.
Demi membuat Qin Muting tenang, Qiao Nian dengan inisiatif masuk ke dalam mobil Gu Sui.
Gu Sui dengan penuh amarah melajukan kendaraannya pergi.
Namun, begitu mobil baru saja melaju tidak jauh dari kediaman keluarga Qin, ia mendengar Qiao Nian berkata, "Berhenti."
Gu Sui tidak mempedulikannya.
Wajahnya tampak dingin dengan kedua tangan menggenggam erat roda kemudi.
Melihat pria itu tidak menghentikan mobil, Qiao Nian mengulangi ucapannya, "Berhenti."
Tidak ada ekspresi apa pun di wajahnya, tetapi nadanya begitu dingin bagaikan genangan air yang mati.
Gu Sui meliriknya dengan tatapan tajam dari kaca spion, lalu mencemooh, "Kenapa? Tidak sanggup pergi? Masih ingin kembali?"
Qiao Nian seolah tidak mendengar cemoohan dinginnya, ia hanya bersikeras mengulanginya, "Berhenti."
Gu Sui tetap tidak menghentikan kendaraannya.
"Berharap aku berhenti? Tidak mungkin! Qiao Nian, jika kau punya nyali, lompat saja dari sini."
Begitu Gu Sui selesai berbicara, terdengar bunyi 'klik' saat pintu mobil terbuka. Menyusul kemudian, sebelum pria itu sempat mengerti apa yang terjadi, Qiao Nian melompat keluar dari mobil yang sedang berjalan.
Gu Sui menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri sosok wanita itu menghilang dari dalam mobil.
Jantungnya seolah berhenti berdetak pada detik itu juga.
Hanya saja, kakinya bergerak secara naluriah, bereaksi lebih cepat daripada otaknya.
Ia menginjak rem dengan kuat hingga ban mobil bergesekan dengan aspal, menimbulkan suara decitan yang nyaring.
Wajah Gu Sui seketika memucat tak berdarah.
"Qiao Nian!!" ia berteriak kencang, lalu dengan cepat melompat keluar dari mobil.