Bab 60: Keluarga Li
Plak! Kali ini Wu Mei bertindak tanpa menunggu persetujuan Lin Feng, langsung menampar wajah wanita paruh baya itu hingga hampir membuatnya tersungkur ke lantai.
"Kapan giliranmu memotong pembicaraan saat Kak Feng sedang berbicara, mahluk bodoh yang tidak tahu hidup dan mati."
Lin Feng melirik Wu Mei dengan tatapan penuh apresiasi, berpikir dalam hatinya bahwa wanita ini akhirnya telah dewasa dan tidak perlu diingatkan dalam setiap hal lagi.
Ye Ning memeluk Lin Feng erat-erat, takut kalau semua ini hanya sekadar mimpi. Air mata di matanya tidak berhenti mengalir, membuat Lin Feng merasa sangat iba.
"Kak Ning'er, tenanglah. Mulai sekarang selama aku ada di sini, tidak ada seorang pun yang boleh merundungmu. Orang-orang yang merundungmu akan kubuat membayar harganya."
Lin Feng berjanji. Hanya dia sendiri yang tahu betapa pentingnya peran Ye Ning di dalam hatinya; wanita itu adalah keluarga yang sama berharganya dengan Sun Wen.
Di dalam hati Lin Feng, saat ini Ye Ning adalah satu dari sedikit orang di dunia ini yang layak untuk diperlakukan dengan tulus.
Ye Ning mengangguk pelan, merasakan kehangatan yang tidak pernah ia rasakan selama belasan tahun terakhir. Hatinya merasa sangat tenteram. Jika boleh memilih, ia ingin hidup seperti ini selamanya.
Tepat pada saat itu, Tangan Hantu Li datang. Begitu melangkah masuk dan melihat kondisi Li Fugui, ia terkejut bukan main hingga rasa takut merayapi hatinya.
Ia tahu bahwa petinggi satu ini memiliki cara yang luar biasa, tetapi ia tidak menyangka pihak lawan akan bertindak begitu kejam hingga hampir membunuh orang itu.
"Kalian para keparat!" Setelah masuk, Tangan Hantu Li menendang beberapa orang hingga terjatuh, lalu berjalan mendekati Lin Feng sambil menggerutu penuh amarah.
"Tuan, saya tidak tahu menahu tentang masalah ini. Jika saya tahu, saya pasti tidak akan membiarkan hal-hal seperti ini terjadi!"
"Tidak usah buru-buru melempar tanggung jawab. Kalau aku mencurigaimu, kau sudah mati sekarang."
Lin Feng melanjutkan dengan nada dingin.
"Selidiki siapa saja yang terlibat dalam masalah ini sejak awal. Setelah semuanya terungkap, jangan biarkan satupun orang yang memiliki hubungan lolos."
Lin Feng telah mengeluarkan perintah mutlak. Tangan Hantu Li tentu tidak berani membantah. Dengan tubuh gemetar, ia menjawab "baik", lalu memerintahkan anak buahnya untuk segera menyelidiki.
Bum! Pintu utama tiba-tiba ditendang hingga terbuka. Seorang pria paruh baya menyelonong masuk, lalu melihat Li Fugui yang terbaring di lantai setelah dihajar babak belur.
"Keparat, beraninya kalian memukul anakku! Kalian semua benar-benar sudah bosan hidup!"
Pria yang datang itu tidak lain adalah Li Cantian, ayah Li Fugui—seorang pria dengan cara bertindak yang sangat kejam. Di ibu kota, metode-metodenya terkenal di kalangan siapa saja tanpa terkecuali.
"Kau?" Li Cantian seketika mengenali Lin Feng, Ye Ning, dan Tangan Hantu Li yang berdiri di sisi ruangan.
Namun, sesaat ia tidak mengenali Tangan Hantu Li. Bagaimanapun, para anggota Delapan Aliansi Luar adalah orang-orang yang tidak pernah memperlihatkan wajah asli mereka, sehingga biasanya sulit dikenali.
"Pergilah katakan pada pemilik kedai, katakan bahwa aku, Ye Xueqing, bersedia memberinya muka demi melindungi Lin Feng ini."
"Nona? Ini..."
Tangan Hantu Li merasa sedikit bingung. Mungkinkah nonanya benar-benar telah jatuh hati kepada Lin Feng ini?
"Jangan banyak tanya, lakukan saja seperti yang kuintruksikan."
Kata Ye Xueqing. Tangan Hantu Li terpaksa harus mengikuti perintah Lin Feng, meskipun tatapan matanya menunjukkan sedikit perubahan.
Pemilik Kedai Langit adalah seorang wanita yang sangat luar biasa. Meskipun usianya baru kepala dua, di masa lalu ia seorang diri hampir memicu gelombang besar di dunia persilatan, dan namanya adalah Langit.
"Nona Ye bersedia memberikan budi ini kepadaku, tentu saja aku sangat senang."
Langit meneguk sisa anggur di dalam gelasnya, lalu berjalan perlahan menuju ruangan tempat Lin Feng berada.
Meskipun ia tidak tahu identitas pemuda ini hingga bisa membuat srikandi dari Pasukan Naga turun tangan.
Namun, itu sudah menjadi sebuah fakta, dan percuma saja jika ia ingin menyangkalnya.
Langit mendorong pintu terbuka dan mendapati Li Cantian serta Lin Feng sedang saling berhadap-hadapan di dalam ruangan.
Kemarahan Li Cantian sudah mencapai puncaknya dan ia bersiap untuk menyerang.
"Bos Li, ada angin apa datang kemari tanpa menyapa lebih dulu?"
Langit melangkah masuk, dengan santai menghalangi Li Cantian yang hendak melancarkan serangan.
"Bos Li, apa yang sebenarnya terjadi sampai membuatmu begitu marah? Tempatku ini hanyalah usaha kecil yang tidak tahan jika harus porak-poranda karena perkelahian. Jika ada yang tidak memuaskan hatimu, bicarakan saja langsung padaku."
Langit menggunakan cara lain untuk mengalihkan perhatian Li Cantian. Tentu saja, ia belum tahu bahwa Lin Feng telah menghajar Li Fugui hingga bentuknya nyaris tidak dikenali lagi.
"Langit, urusan ini tidak ada hubungannya denganmu. Kuberitahu sebaiknya kau jangan ikut campur, atau aku tidak bisa menjamin akhir dari urusan ini!"
Li Cantian masih memberikan sedikit kelonggaran. Bagaimanapun, wanita bernama Langit ini memiliki keunikan tersendiri, dan kecuali terpaksa, Li Cantian tidak ingin berurusan dengannya.
"Bos Li, jangan berkata begitu. Ini adalah tempat usahaku. Kalau kalian membuat keributan di sini dan merusak barang-barang, lalu bagaimana nasibku kedepannya?"
"Langit, apakah kau harus ikut campur dalam masalah ini?"
Li Cantian menunjuk ke arah Li Fugui yang terkapar di lantai.
"Orang ini telah memukul anakku hingga seperti ini, aku hanya ingin memberinya pelajaran. Jika kau berniat menghalangiku, silakan coba saja."
Begitu melihat kondisi Li Fugui di lantai, ekspresi wajah Langit seketika berubah. Ia tidak menyangka masalahnya akan merembet sejauh ini, pantas saja Li Cantian begitu murka.
"Ehm, Bos Li, aku juga tidak menyangka situasinya akan menjadi kacau begini. Jadi... apa syaratnya agar kau mau melepaskannya?"
Mau tidak mau, Langit harus menebalkan muka dan berbicara seperti itu. Saat ini bukan lagi masalah diberi muka atau tidak, melainkan jika pemuda ini ternyata memiliki latar belakang yang sangat penting.
Sekiranya pemuda itu sampai dihabisi di sini, Ye Xueqing bisa saja berbalik dan memperhitungkan semuanya padanya.
"Langit, apa hubunganmu sebenarnya dengan orang ini?"
"Tidak ada hubungan apa pun. Hanya saja, ada seseorang yang menitipkan pesan agar aku menjaga keselamatannya."
Wajah Li Cantian tampak semakin kelam. Ia tidak tahu siapa sebenarnya pemuda itu. Meskipun ia cukup berkuasa untuk bertindak sesuka hati di ibu kota, bukan berarti tidak ada seorang pun yang bisa menahannya.
"Baiklah. Karena kau sudah berkata demikian, aku akan memberikan muka padamu: patahkan kedua tangannya, dan setelah itu ia boleh pergi dari sini."
Wu Mei tersenyum tipis. Ia tidak menyangka kedua badut di hadapannya ini masih sempat-sempatnya berunding di tempat seperti itu.
"Kak Feng, bagaimana sebaiknya kita tanggapi ini?"
Lin Feng menggelengkan kepalanya. Ia ingin tahu alasan mengapa Langit tiba-tiba muncul dan berniat melindunginya.
"Boleh saja. Kalian berdua patahkan tangan kalian sendiri, lalu enyah dari sini."
Langit menghela napas lega. Bagaimanapun juga, setidaknya nyawa mereka masih bisa diselamatkan. Bahkan jika suatu hari nanti Ye Xueqing datang menagih pertanggungjawaban, ia memiliki alasan yang kuat untuk mengelak.
"Orang yang bisa mematahkan kedua tanganku bahkan belum lahir di dunia ini. Kau, memangnya siapa?"
Lin Feng berkata dengan tenang, lalu membaringkan Ye Ning di atas meja di sebelah kanan dan meminta Wu Mei untuk menjaganya.
Ye Ning hanyalah seorang wanita biasa, dan Lin Feng tidak ingin wanita itu melihat pemandangan yang terlalu berdarah-darah, sebab itulah ia memilih untuk turun tangan sendiri.
"Anak muda, Langit sudah mencoba mencarikan kesempatan bagimu untuk tetap hidup. Karena kau tidak tahu bersyukur, jangan salahkan aku jika bertindak kejam!"
"Serbu! Hajar sampai mati! Kalau mati, sialan, biar kutanggung semuanya!"teriak Li Cantian dengan suara lantang.
Seketika belasan orang menerobos masuk dari pintu. Mereka semua adalah para petarung bela diri, dan bukan sembarang petarung, melainkan para ahli bela diri yang telah berpengalaman dalam berbagai medan pertempuran.
"Baik, Bos!"